Senin, 07 Mei 2012

KISAH INSPIRASI : KELUAR DARI ZONA NYAMAN


INSPIRASI KUMBAYA
Disampaikan pada : SELASA, 08 MEI 2012
DANIEL C. SAPUTRA

KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Sobat…
Setelah beberapa waktu yang lalu sebuah kisah dengan judul Berhenti Sejanak saya bagikan, dimana seringkali manusia lupa untuk menikmati kehidupan dan terlebih lagi dimana manusia lupa untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan anugrahkan dalam hidupnya…

Sobat…
Namun seringkali kita hanya terpaku tanpa melakukan usaha melanjutkan perjalanan kita, apabila kita sudah mendapatkan sebagian dari yang kita cita – citakan…
Sobat… seringkali kita sudah puas berada dalam zona nyaman kehidupan kita… Padahal, ketika kita melanjutkan usaha kita… kita akan mendapatkan lebih dari yang kita rasakan saat itu…

Sebuah kisah yang dituliskan oleh Joel Osteen untuk perenungan kita…

Sobat…
Ada sebuah tempat pendakian gunung di Swiss Alps yang melayani pengusaha untuk mendorong para karyawan mereka melakukan kegiatan pendakian bersama – sama dalam satu lintasan menuju ke puncak.
Sasaran dari kegiatan tersebut adalah untuk membangun persahabatan dan mengajarkan teamwork…
Meskipun itu merupakan perjalanan yang dapat ditempuh kira – kira delapan jam untuk sampai ke puncak… Namun seorang dengan kemampuan berjalan normal dapat naik sampai ke puncak.

Sobat… setiap pagi para pendaki itu berkumpul di kaki gunung dan mereka saling memberikan semangat untuk melakukan pendakian… Biasanya kelompok – kelompok itu menjadi sangat bersemangat, mereka hampir tidak sabar menunggu untuk segera mendaki lereng – lereng pegunungan… untuk mengambil foto bersama dan untuk merayakan kemenangan mereka.

Sobat… mereka mendaki selama beberapa jam sebelum beristirahat…
Kira – kira setengah perjalanan dari pendakian itu ada sebuah restoran tua namun menarik…
Pada tengah hari… Para pendaki yang lelah itu datang dengan susah payah ke restoran tua itu, melepaskan perlengkapan pendakian mereka dan duduk dekat perapian untuk meminum kopi atau coklat panas dan makan siang…
Dengan latar belakang pegunungan, para pendaki itu menikmati pemandangan yang hangat… menyenangkan… dan indah…

Sobat, menariknya…
Setelah mereka kenyang dan nyaman…
Kurang dari setengah dari para pendaki tersebut yang memilih untuk melanjutkan pendakian sampai ke puncak…

Sobat…
Itu bukan karena mereka tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan mereka… Itu bukan karena pendakian itu terlalu sulit…
Sobat… Keengganan mereka untuk melanjutkan pendakian adalah karena mereka puas dengan dimana mereka berada…
Mereka kehilangan semangat untuk menggapai yang terbaik… Untuk menjelajahi pemandangan – pemandangan baru… Untuk mengalami pemandangan – pemandangan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Mereka telah merasakan sedikit keberhasilan, dan mereka berfikir… Ini cukup baik…

Sobat…
Kalau beberapa waktu yang lalu saya mengatakan…
Seringkali kita lupa untuk menikmati hidup dan mensyukuri semua anugrah Tuhan…

Sobat…
Setelah bersyukur, setelah kita mengintrospeksi diri kita… tentunya kita mengetahui dan menyadari, anugrah Tuhan sangatlah luar biasa untuk kita…
Marilah sobat… janganlah kita pendam… janganlah kita berdiam diri, tetapi mari kita pergunakan semua itu untuk melanjutkan perjalanan kita menggapai segala cita – cita kita…

Sobat…
Bukan karena kita tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan… bukan karena kita tidak punya ketrampilan untuk melangkah…
Tetapi seringkali kita enggan bergerak dari zona nyaman kita…

Bukankah hidup ini adalah perjuangan yang akan terdapat tantangan di depan kita…???
Janganlah gentar… Tuhan memampukan kita yang taat… yang tidak lupa untuk bersyukur kepadanya setiap saat…
Dia akan memberikan kekuatan kepada kita, untuk menggapai puncak tertinggi dalam hidup kita… dimana kita akan menyaksikan pemandangan – pemandangan yang indah… pengalaman – pengalaman yang sangat berarti ketika kita berjalan bersama Dia…

Tetap Semangat… Selamat Melangkah…

Daniel C. Saputra


Jumat, 04 Mei 2012

KISAH INSPIRASI : AYAM GORENG YANG MENDUNIA


INSPIRASI KUMBAYA
Disampaikan pada : SENIN, 07 MEI 2012
DANIEL C. SAPUTRA

AYAM GORENG YANG MENDUNIA
KISAH PERJALANAN HARLAND SANDERS – KENTUCKY FRIED CHICKEN

Sobat… Hidup adalah perjuangan, dan tidak ada yang mudah di dalam hidup ini…
Mau tidak mau… Suka tidak suka… Kita harus merasakan dan mengalami semua yang ada di dalam hidup kita… Ada suka… Ada duka… Ada tawa… Ada air mata… Ada keberhasilan, tetapi juga ada kegagalan yang harus kita terima…
Meski demikian, kita harus terus melangkah di dalam hidup ini… Kita harus menghadapinya dan tidak ada kata menyerah dan putus asa…!!!

Sobat… di semua aspek kehidupan kita akan menghadapi tantangan – tantangan yang siap menantikan perjuangan kita…
Sekali lagi sobat… Hidup tidaklah mulus… kita akan kecewa apabila memiliki gambaran hidup yang penuh dengan kenyamanan karena tidak ada tantangan… tidak ada masalah… dan tidak ada air mata… KITA HARUS GIGIH… KITA HARUS ULET, memperjuangkan apa yang menjadi cita – cita kita… yaitu KEBERHASILAN… KESUKSESAN…

Saya mengajak kita belajar dari kegigihan seorang yang bernama Harland Sanders…

Harland D. Sanders lahir pada tahun 1890 di sebuah ladang yang berdekatan dengan Hendryville, Indiana. Ayahnya meninggal ketika ia berusia enam tahun. Itu menyebabkan ibunya harus bekerja sebagai tukang jahit baju sedangkan ia juga terpaksa menjaga adik - adiknya yang masih kecil. Pada saat itulah ibunya mengajarkan seni masakan daerah

Sobat… akhirnya Ibunya sudah tidak bisa bekerja lagi, dan Harland muda sudah harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun.
Sobat… Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya dan pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak.
Pada usia 10 tahun, Harland Sanders mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan.
Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah dan akhirnya sang ibu meninggal di rumah tempat tinggalnya dekat Henryville, Ind.
Sobat… Sanders yang pada saat itu berusia 12 tahun telah berhenti sekolah. Dia keluar rumah untuk mulai bekerja, Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun, pertama sebagai tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, Ind., dan kemudian pada usia 16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, penjual asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel.
Sobat… Akhirnya, Harland Sanders membuka sebuah terminal layanan yang sukses dimana dia menyediakan masakan istimewa kepada para pelanggan - ayam goreng, semeja 6 orang.

Sobat… Nampaknya nasib malang merupakan teman setia Sanders… Pada tahun 1939, bisnisnya terpuruk dan nyaris bangkrut. Tetapi tanpa rasa putus asa, Sanders mendirikan sebuah restoran
dan motel dengan gaya baru. Siapa pun yang ingin mengunakan telepon umum atau hendak ke toilet wanita harus melalui replika kamar motelnya yang terdapat di situ.
Sobat… Iklan ini sukses untuk mengembangkan bisnis motelnya. Ketika pendapatan yang di peroleh agak bagus, satu masalah lain muncul. Ada jalan raya baru yang membuat semua pelanggan lebih suka lewat jalan baru itu sehingah tidak melewati motelnya. Tingkat hunian motel mulai merosot, dan Sanders melelang semua bisnisnya... Namun hasil jualannya hanya cukup untuk membayar hutang yang ada.

Sobat… Meski Harland D. Sanders sudah berusia 66 tahun ketika itu, ia tidak mempunyai apa-apa yang dapat dibanggakan… Dengan hidup di bawah tanggungan dinas sosial, Sanders berencana mencari segmen pasar baru yang sesuai.
Satu – satunya harta paling bernilai yang dimilikinya adalah resep rahasia yang di beri nama "ayam goreng kentucky"… Menjelang tahun 1956, Sanders telah berhasil meyakinkan
belasan restoran guna memasak dan menjual ayam goreng Kentucky; dan memberinya US$ 4 sen sebagai royalti untuk setiap potong ayam goreng yang terjual.
Sobat… Gembira dengan kesuksesan yang di peroleh, Sanders lalu memuati mobil pikap model 1946 miliknya dengan 50 resep ramuan bumbu dan sebuah periuk untuk ditawarkan kepada beberapa orang yang mau membeli waralaba resepnya. Menjelang tahun 1960, sebanyak 400 buah restoran di Amerika dan Kanada telah meyediakan ayam goreng Kentucky.

Sobat… Dalam waktu 4 tahun, jumlah tempat jualan ayam goreng Kentucky telah meningkat menjadi 650 restoran dengan omset penjualan per tahun bernilai US$37 juta. Saat ini
terdapat hampir 10.000 restoran ayam goreng kentucky di seluruh dunia dengan lebih dari 200.000 karyawan dan omset penjualan per tahun lebih dari US$ 8.2 milyar.

Sobat… Setiap kita pasti menginginkan keberhasilan… kesuksesan untuk kita peroleh…
Tetapi hidup adalah misteri… Kita merencanakan kehidupan kita sedemikian matang, tetapi seringkali di tengah perjalanan, kita pasti akan menghadapi masalah… tantangan… bahkan kegagalan…

Saat ini… seberapa banyak kita telah mengalami kegagalan…???
Mungkin kita merasa sudah tidak tahan dengan banyaknya masalah yang menimpa kehidupan kita… Kegagalan yang seringkali kita alami…
Atau seberapa banyak tetesan air mata yang telah kita cucurkan…

Sobat… JANGAN PERNAH MENYERAH…!!!
Keberhasilan… Kesuksesan tidak kita dapatkan dengan cara instant…
Keberhasilan… Kesuksesan membutuhkan jiwa – jiwa yang tangguh untuk mencapainya
Keberhasilan… Kesuksesan membutuhkan pejuang – pejuang kehidupan yang senantisa tekun dan disiplin untuk menggapainya… walaupun ada tantangan… masalah, dan air mata…

Tetap semangat… Tetap berpengharapan… Senantiasa mengucap syukur
Daniel C. Saputra

Kamis, 03 Mei 2012

KISAH INSPIRASI : BERBAGI KASIH


INSPIRASI KUMBAYA
Disampaikan pada : JUM’AT, 04 MEI 2012
DANIEL C. SAPUTRA

BERBAGI KASIH

Sobat…
Ketika kita merenungkan akan hidup kita, tentunya banyak hal yang telah kita alami…
Ketika kita merenungkan akan kasih Tuhan yang nyata dalam hidup kita… Banyak hal… Banyak alasan yang membuat kita bersyukur dan berterima kasih atas anugerah yang telah Dia berikan untuk kita…

Tetapi kondisi tersebut akan dengan mudah berbalik arah, bahkan hal itu seringkali terjadi dalam hidup kita…
Kita senantiasa merasa banyak kekurangan di dalam hidup ini… sehingga kita kita dibutakan karenanya…
Sobat… Banyak orang memiliki materi yang berlimpah… Tetapi masih saja ia merasa kurang… masih saja mengeluh… dan dia tidak dapat bersyukur…
Sobat… tidak ada damai sejahtera dan sukacita bukan karena kekurangan dalam hal materi… tetapi karena dia tidak dapat bersyukur dan tidak dapat membagikan kasih kepada sesama…

Sebuah kisah untuk perenungan kita…

Sobat… ada seorang yang bernama BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak…
Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya…, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya… Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Sobat… Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya… Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja…
Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan… Dia melalang di jalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum yang tak pernah lekang dari wajahnya… Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya.
Namun karena kebaikan hatinya itu…, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Sobat… Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya…
Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian… Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak…

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat…, di ruang itu juga ia menerima tamu yang membutuhkan bantuannya…, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal.
Ada sebuah piring seng comel dimana biasa ia makan…, ada sebuah tempat minum dari kaleng.
Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Sobat… Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang.
Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah… Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek… Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin… Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja… Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu…

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga…

Sobat… Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.

Sobat… Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan…

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak…

Sobat… Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu... Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia melakukan semua itu…, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu…
Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan….,” katanya dengan sendu.

Semua guru di sekolah itu menangis….

Sobat… Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun…, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Sobat…
Mungkin hidup kita lebih beruntung dibandingkan dengan Bai Fang Li… Tetapi apakah kita mendapatkan kedamaian yang lebih dibandingkan dengan dia…???
Mungkin kita hidup secara berkecukupan… atau mungkin berkelimpahan…
Disekeliling kita ada keluarga yang mengasihi kita… Kita punya punya tempat tinggal yang layak… Kita punya pekerjaan… Punya yang lain… dan yang lain…

Sobat… seringkali kita dibutakan karena materi… sehingga kita terus dan terus merasa kekurangan… Sehingga damai sejahtera dan sukacita hilang dari kehidupan kita…

Sobat… Kasih yang telah Tuhan berikan kepada kita… Dengan wujud yang nyata telah dianugerahkan kepada kita… Sobat… Kasih bukanlah sekedar apa yang kita keluarkan dari mulut kita… Tetapi kasih harus diwujudnyatakan di dalam hidup kita…

Sobat… Kasih adalah pembawa damai sejahtera… dan kasih, mengajarkan kepada kita untuk memiliki hidup yang senantiasa bersyukur…

Selamat berbagi kasih… Selamat bersyukur…

Daniel C. Saputra


Rabu, 02 Mei 2012

KISAH INSPIRASI : CUKUP


INSPIRASI KUMBAYA
Disampaikan pada : SELASA, 01MEI 2012
DANIEL C. SAPUTRA

CUKUP

Sobat…
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata CUKUP
Kapankah kita bisa berkata cukup…?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya…
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target…
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian…
Suami berpendapat istrinya kurang pengertian...
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati...
Semua merasa kurang dan kurang…!!!
Kapankah kita bisa berkata cukup…?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati.

Sebuah kisah untuk perenungan…

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib…
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya…
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya… seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata CUKUP.

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya…
Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu…
Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana…
Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya…

Ia merasa masih kurang…!!!
Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya….
Ia masih merasa belum cukup…!!!
Kemudian dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup…

Sobat…
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri…
Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. Cukup jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri.

Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.

Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia…
Marilah kita mensyukuri untuk segala yang telah Tuhan anugrahkan dalam diri kita
Belajarlah untuk berkata CUKUP…!!!




Jumat, 27 April 2012

KISAH INSPIRASI : KACA MATA KEHIDUPAN


INSPIRASI KUMBAYA
Disampaikan pada : SENIN, 30 APRIL 2012
DANIEL C. SAPUTRA

KACA MATA KEHIDUPAN

Sobat, dinamika kehidupan manusia sungguh luar biasa…
Kita tidak saja hanya berjalan lurus, tetapi terkadang kita melewati jalan yang berliku – liku…
Kita tidak saja hanya melewati jalan yang mulus, tetapi terkadang kitapun melewati jalan yang terjal…

Bagaimana kita memandang kehidupan ini…???
Sobat… HIDUP TIDAKLAN MENJEMUKAN… akan terdapat banyak “warna” yang kita jumpai dalam perjalanannya…
Tetapi yang seringkali kita jumpai, atau bahkan yang kita sendiri fikirkan adalah bahwa kita menginginkan HIDUP YANG LURUS dengan hanya ada 1 (satu) WARNA di dalamnya…
WARNA tersebut adalah KESUKSESAN, KELANCARAN dan serba YANG MENGENAKKAN HIDUP KITA…!!!

Sobat, tetapi kita tidak hanya dapat memilih satu warna saja dalam hidup kita, dan warna – warna tersebut telah diatur oleh Tuhan menjadi satu karya yang indah… dan apabila ada satu saja warna yang dihapus, maka karya tersebut tidaklah karya yang indah dan sempurna…

Sobat, Manusia tidak pernah puas dan selalu ingin mengatur, menurut keinginannya sendiri… TERMASUK MENGATUR TUHAN, Sang Pemilik Kehidupan…

Sobat, bagaimana mungkin kita akan mengetahui kehidupan kita kelak… yang tahu HANYALAH DIA…!!!

Banyak hal telah dan akan terjadi dalam kehidupan kita, dimana di dalamnya terdapat suka, tetapi juga terdapat duka… terdapat keberhasilah, tetapi juga terdapat kegagalan…
Sobat, Bagaimana kita memandang hidup kita yang penuh dengan warna tersebut…???
Padahal, sebagai manusia kita tidak pernah luput dari rasa kuatir… rasa cemas… dan rasa – rasa yang tidak mengenakkan…

Sobat, Bagaimana kita memandang hidup kita…???

Dean Black menceritakan dua kisah nyata mengenai hal ini dalam buku Frogship Perspective.

Kisah yang pertama :
Ada seorang pemain bola basket berbakat…, ketika dia berusia 16 tahun, dia kehilangan kedua kakinya dalam sebuah kecelakaan. Ini hal yang buruk bagi Curt Brinkman, pebasket muda tersebut yang akhirnya menjadi atlet kursi roda terkenal.
Ia berkata, “Segera sesudah kecelakaan itu saya bangkit. Saya justru tidak tahu seperti apa kalau kaki saya masih ada.”

Kisah yang kedua :
Seorang pria setengah baya melihat kembali dari kebutaan matanya semenjak lahir. Lalu seorang psikolog yang menanganinya berkomentar tentang mantan pria buta ini, “Waktu buta, dia hebat sekali. Tapi waktu dia sembuh, prestasinya merosot drastis, bahkan seperti orang bodoh.”

Bagi kita kehilangan kedua kaki adalah masalah besar, tapi bagi Curt Brinkman justru adalah kunci kesuksesan.
Bagi kita mendapat kembali penglihatan adalah hadiah, tapi bagi pria separuh baya tersebut adalah masalah besar.
Mengapa bisa demikian? Ini bukan soal masalahnya, tapi soal bagaimana kita melihat sebuah masalah.

Sobat… DIA menciptakan manusia dengan SANGAT BAIK… dan DIApun akan memberikan yang terbaik dalam hidup kita…

Baik atau buruk itu tergantung dari cara kita memandang. Masalah bisa menjadi buruk tapi bisa juga menjadi baik, itu juga tergantung dari cara kita memandang.
Lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, secara mengejutkan kita akan melihat hal-hal yang positif.

Sobat… Apakah hari ini kita sedang mengalami masalah…? Bagaimana cara kita memandang masalah tersebut…?
Tuhan mengajar agar kita untuk melihat segala masalah dari sudut pandang yang positif.
Ini seperti orang yang memakai kacamata. Memakai kacamata hitam akan membuat obyek yang paling terangpun akan terlihat gelap. Jadi jika hari ini hidup Anda terlihat begitu suram dan gelap untuk dijalani, jangan-jangan yang salah adalah kacamata Anda.
Mari Sobat, kita mensyukuri semua yang telah terjadi di dalam kehidupan kita…
Rasa Syukur adalah kunci, agar di dalam kehidupan kita dipenuhi oleh damai sejahtera…
Sobat, ditengah segala kesesakan yang terjadi di dalam kehidupan kita, DIA tidak pernah membiarkan kita berjalan seorang diri… DIA memberikan kekuatan, dan DIA menyertai kita semua…
DIA memakai semua kejadian dalam hidup kita, untuk membentuk kita menjadi sebuah karya yang indah…

Sudahkan anda bersyukur…???

Daniel C. Saputra




Senin, 23 April 2012

KISAH INSPIRASI : TUJUAN TAK MENGHALALKAN CARA


INSPIRASI KUMBAYA
Disampaikan pada : SELASA, 24 APRIL 2012
DANIEL C. SAPUTRA

TUJUAN TAK MENGHALALKAN CARA

Sobat…
Apakah yang menjadi tujuan dalam hidup kita…???
Apakah yang menjadi cita – cita… keinginan… dalam hidup kita…???

Saya yakin, bahwa setiap dari kita pasti menginginkan sesuatu yang dinamakan KEBERHASILAN

Sobat… Kalau kita merenungkan…
Banyak jalan untuk menuju sebuah kesuksesan…
Tetapi hanya sedikit dari jalan tersebut yang mengajarkan kita untuk melakukan hal yang baik… hal yang benar… Terutama dihadapan Tuhan…

Sebuah kisah untuk kita renungkan…

Dikisahkan bahwa ada sebuah perusahaan telekomunikasi di Italia yang sedang mencari satu tenaga teknis untuk menangani salah satu departemen dari perusahaan tersebut…

Sobat… Begitu banyak orang yang datang melamar dan menjalani ujian tertulis…
Namun sesudah ujian tertulis ini, semua peserta diberi pekerjaan rumah oleh perusahaan tersebut…
Setiap orang diberi semangkok bibit kacang hijau untuk disemayamkan…
Dan setelah jangka waktu yang diberikan oleh perusahaan, setiap orang harus membawa kembali bibit kacang hijau yang telah tumbuh segar ke perusahaan tersebut…
Siapa yang berhasil merawat kacang yang tumbuh paling segar akan memperoleh posisi pekerjaan yang dikejar banyak orang karena memberikan jaminan gaji yang tinggi tersebut.

Sobat… Setelah jangka waktu yang telah diberikan itu, para peserta ujian kembali lagi ke perusahaan sambil membawa bibit kacang hijau yang telah bertumbuh segar menghijau…
Setiap orang memamerkan hasil usaha mereka… dan dalam hati berharap bahwa ia akan memperoleh posisi yang bagus tersebut…

Sobat… Nampak seketika bahwa team penilai akan sulit memutuskan siapa yang jadi pemenangnya karena semua membawa bibit kacang yang telah bertumbuh itu sama bagus dan sama segarnya.

Setelah dilakukan absen… Ternyata satu orang tidak muncul di tengah para peserta.
Sobat… Sang manager perusahaan lalu menelpon pelamar yang tak hadir itu dan menanyakan alasan ketidak-hadirannya...
Orang tersebut dengan penuh penyesalan serta rasa bersalah memberikan alasan ketidakhadirannya saat ini. Ia mengatakan bahwa bibit yang diberikan itu hingga saat ini belum bertumbuh pada hal ia sudah berusaha memberi pupuk, memberi air yang cukup…
Semua persyaratan yang dibutuhkan agar bibit kacang hijau bertumbuh subur telah dipenuhinya, namun anehnya, bibit tersebut seakan berkepala keras tak mau bertumbuh.

Dia mengatakan… "Aku berpikir bahwa aku pasti gagal untuk memperoleh posisi dalam perusahaan telekomunikasi ini… Karena itu saya memutuskan untuk tidak datang hari ini ke perusahaan bapak."

Sobat… Justru di saat ketika orang itu akan meletakan gagang teleponnya, sang manager memberikan kata-kata yang sungguh di luar dugaannya…
"Engkaulah satu-satunya yang diterima perusahaan kami…!!"
Orang itu heran dan kaget tak percaya.

Sobat… Sesungguhnya, bibit kacang hijau yang dibagikan kepada para peserta ujian tersebut adalah bibit yang telah diproses sehingga tak bisa bertumbuh lagi…
Perusahaan akan dengan mudah mengetahui peserta mana yang jujur.
Dan ternyata hanya seorang yang yang tak mampu membawa bibit kacang yang telah tumbuh. Dan dialah orang yang dipilih itu.
"Inilah prinsip kami, nilai moral dalam pekerjaan lebih ditinggikan ketimbang keberhasilan dalam bekerja." Demikian sang manajer menjelaskan.

Sobat… Dunia banyak menawarkan kenikmatan…
Dunia menawarkan banyak jalan pintas untuk meraih kesuksesan…
Tetapi marilah kita renungkan… Jalan manakah yang kita pilih…???

Daniel C. Saputra


Jumat, 20 April 2012

KISAH INSPIRASI : SECANGKIR KOPI YANG MENDUNIA


INSPIRASI KUMBAYA
Disampaikan pada : SENIN, 23 APRIL 2012
DANIEL C. SAPUTRA

HOWARD SCHULTZ
KISAH SECANGKIR KOPI YANG MENDUNIA

Sobat… Apa yang akan Anda lakukan jika ide Anda ditolak dan dilecehkan, bahkan dianggap gila oleh 217 orang dari 242 yang diajak bicara…?
Menyerah…? Atau malah makin bergairah…?
Jika pilihan terakhir ini yang Anda lakukan, barangkali suatu saat, sebuah impian membuat bisnis kelas dunia bisa jadi milik Anda.

Yah, itulah kisah nyata yang dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi Starbucks.

"Secangkir kopi satu setengah dolar…? Gila! Siapa yang mau…?”
“Ya ampun, apakah Anda kira ini akan berhasil…? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi,"
Sobat… itulah sedikit dari sekian banyak cacian yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks.

Dalam buku otobiografinya yang ditulis bersama dengan Dori Jones Yang - Pour Your Heart Into It; Bagaimana Starbucks Membangun Sebuah Perusahaan Secangkir Demi Secangkir - Howard menceritakan bagaimana ia merintis "cangkir demi cangkir" dan menjadikan Starbucks sebagai kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia.

Sobat… Awalnya, Howard Schultz adalah seorang general manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Suatu kali, ia datang ke Starbucks yang pada awalnya hanyalah toko kecil pengecer biji - biji kopi yang sudah disangrai.
Toko ini dimiliki oleh duo Jerry Baldwin dan Gordon Bowker sebagai pendiri awal Starbucks. Duo tersebut memang dikenal sangat getol mempelajari tentang kopi yang berkualitas.
Melihat kegairahan mereka tentang kopi, Howard pun memutuskan bergabung dengan Starbucks, yang kala itu baru berusia 10 tahun. Ia pun segera bisa dekat dengan Jerry Baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, seorang investor Starbucks baru. Meski begitu, Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan berbagai ide pembaruan untuk membesarkan Starbucks.

Suatu ketika, Howard Schultz datang dengan ide cemerlang… Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks menjadi bar espresso dengan gaya Italia. Setelah perdebatan dan pertengkaran yang panjang, keduanya menemui jalan buntu. Jerry menolak karena meskipun idenya bagus, Starbucks sedang terjerumus dalam utang sehingga tidak akan mampu membiayai perubahan.

Howard pun lantas bertekad mendirikan perusahaan sendiri. Belajar dari Starbucks, ia tidak mau berutang dan memilih berjuang mencari investor. Dan, pilihan inilah yang kemudian membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapinya.

Tekad itu terwujud, dan bahkan dengan uang yang terkumpul dari usahanya, ia berhasil membeli Starbucks dari pendirinya. Namun, kerja keras itu tak berhenti dengan terbelinya Starbucks. Saat terjadi akuisisi, ia mendapati banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya. Tetapi, dengan sistem kekeluargaan, ia merangkul karyawan dan bahkan memberikan opsi saham sehingga sense of belonging karyawan makin tinggi.

Kini, dibantu dengan CEO yang diperbantukannya, Orin C Smith, Howard berhasil mengembangkan Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Ia juga menekankan layanan dengan keramahan pada konsumen, dan di sisi lain, memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard terus berekspansi hingga terus menjadi kedai kopi terbesar.

Sobat… Howard Schultz adalah gambaran kegigihan seseorang dalam mewujudkan ide. Meski diremehkan pada awalnya, Howard tetap bertahan dan akhirnya membuktikan bahwa dengan tindakan nyata, semua ide bisa menjadi nyata. Kepedulian yang ditunjukkan dengan "memanusiakan" semua karyawannya juga telah membuatnya makin disegani sehingga mampu terus memperbesar usahanya.

Sobat… Berapa kali kita mendengar orang melecehkan kita… Pandangan yang sinis terhadap apa yang saat ini kita usahakan untuk meraih kesuksesan…

Sobat… Sukses, tidaklah tergantung dari apa kata orang…
Tetapi sukses tergantung dari diri kita sendiri…
Dengan ketekunan… Dengan Kerja Keras
Dengan Keyakinan bahwa Tuhan menyertai setiap langkah gerak kehidupan kita…