Senin, 13 Februari 2012

CINTA TAK PERNAH SALAH


Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Menyambut hari kasih sayang, dimana kita diingatkan kembali akan pentingnya cinta di dalam hidup kita…
Tuhan menganugrahkan kepada kita kasih, kiranya kasih itu ada dan nyata di dalam kehidupan kita…
Kiranya dengan beberapa kisah yang saya bagikan, dapat membuat kita semakin menghargai dan mengasihi orang – orang yang ada di sekeliling kita…

CINTA TAK PERNAH SALAH…
Cinta tidak buta,
Tetapi kitalah yang membutakannya,

Bagi anak muda, seringkali kita menyalahkan cinta, apabila kita mengalami kegagalan… kekecewaan… sakit hati…
Seringkali pula, kita tidak menyadari bahwa bukanlah cinta yang salah dibalik dukacita yang kita alami… tetapi yang salah adalah diri kita, yang tidak dapat menempatkan dan mengaplikasikan cinta itu dengan benar…

Cinta tidak pernah salah… manusia itu sendiri yang membuat kesalahan dalam mengartikan dan menerapkan cinta dalam kehidupannya…
Egois, adalah kata yang tepat bagi manusia untuk menghancurkan makna cinta yang sesungguhnya…
Rasa ingin memiliki… Ingin menguasai… Ingin mendapatkan sesuatu yang lebih (padahal ia sudah mendapatkan yang terbaik)

Sebuah kisah yang patut kita renungkan…

Alkisah ada seorang wanita cantik yang sangat baik hati, tulus, ramah dan menarik, sebut saja namanya Jane… Tapi di balik semua kelebihannya itu ada kekurangannya yang membuat dia dia jauhi… yaitu matanya buta (Tidak bisa melihat).
Semua laki-laki tidak ada yang ingin mendekatinya, bahkan tak ada seorangpun yang mau berteman dengannya…
Tentu saja karena hal itu membuat Jane sangat sedih dan hampir putus asa.

Tetapi di antara semua orang-orang yang menjauhi Jane, Ada seorang Pria bernama Jimmy, Ia sama sekali tidak Menjauhi Jane, bahkan Jim menyatakan Bahwa ia sangat sayang dengan Jane, walaupun Jane tak bisa melihat ataupun semua kekurangan yang Jane miliki.
Memang Jimmy juga bukanlah Pria yang Tampan dan Gagah, dan juga Jimmy mempunyai kekurangan lain seperti wajahnya yang Jelek dan sifatnya yang agak terbelakang. Tetapi Jimmy tak pernah merasa malu dan bahkan tak pernah mengeluh saat bersanding dengan Jane…
Jimmy selalu mencemoh setiap orang yang mengolok-olok Jane dan bahkan Jimmy sering kali Berkelahi dan di keroyok segerombolan Pria yang benci dirinya dan Jane karena Jane di anggap Manusia Cacat yang tak pantas berada di kampusnya.

Cinta Jimmy pada Jane sangat tulus sehingga orang tua Jane pun sangat terharu dan terkesan dengan kesetiaan dan ketulusan Jimmy...
Upaya orang tua Jane untuk menyembuhkan kebutaannya selalu tidak berjalan lancar. Tidak ada retina mata yang pas untuk mata Jane… Walaupun Orang Tua Jane akan memberi Hadiah Uang yang banyak untuk penyumbang mata bagi Jane, namun hasilny Nihil karena tidak ada yang cocok…
Mendengar hal itu semua tentu membuat Jane sangat sedih tapi kesedihan Jane Terkikis perlahan berkat kehadiran Jimmy yang selalu setia menemani dan menghibur Jane,

Waktu Telah berlalu beberapa Tahun, Namun Jimmy tetap setia dan semakin cinta dengan Jane, begitupun Jane. Hari-hari Jane yang dulu sangat tidak bearti sekarang lebih berwarna dan ceria berkat Jimmy…
Semua orang takjub akan ketulusan cinta Jimmy pada Jane…

Hingga pada suatu Hari, Jane merasakan Keanehan pada Jimmy.
Jane pun menjadi sangat sedih… Tapi tak lama kemudian datang lah berita yang sangat baik untuk Jane. Telah ditemukan mata yang cocok untuk operasi mata Jane, Orang yang Menyumbangkan mata nya tidak diketahui identitasnya…
Akhirnya Operasi untuk menyembuhkan Mata Jane pun berlangsung dengan segera.
Puji Tuhan, Operasi Jane berjalan Lancar… Matanya dapat lagi melihat dan dia pun dapat bercermin melihat dirinya yang benar-benar cantik dan sempurna dalam kondisi sekarang ini…
Sungguh Luar biasa Perasaan senang Jane saat ini. langsung saja Jane berniat mendatangi Jimmy untuk memberinya kejutan karena matanya sudah sembuh dan ingin sekali melihat Jimmy yang selama ini menjadi malaikat bagi Jane…
Namun apa daya, Jimmy benar-benar menghilang, orang tuanya pun tak ada yang tahu kemana Jimmy dan kegiatan apa yang dia lakukan…
Mendengar hal itu tentu saja Jane sangat bingung. tetapi Kebingungan dan kepanikan Jane mereda dengan cepat karena sekarang ia mendapatkan teman-teman baru...
Sekelompok pemuda dan gadis-gadis cantik yang dulu mengolok-oloknya sekarang mengajaknya bergabung dan Bermain / jalan-jalan bersama.

Tentu saja Jane sangat senang karena untuk pertama kalinya dirinya merasa di terima oleh sekelompok orang… Hari-hari dijalani Jane dengan penuh kesenangan, tapi Jane sama sekali seperti cuek dengan keadaan Jimmy, karena saking Senangnya mungkin ia Lupa / sengaja Lupa.
Teman-teman Jane yang baru pun benar-benar keterlaluan, mereka terus menerus menghasut Jane untuk meninggalkan Jimmy, Karena memang Jimmy Sangatlah jelek dan Aneh… Sudah tak pantas lagi untuk bersanding dengan Jane yang sempurna.
Salah satu dari teman-temannya itu Bernama Tom memang berniat tidak baik pada Jane. Dengan Ketampanan dan Kegagahannya Tom ingin merebut hati Jane dan selalu menghasut untuk benar-benar meninggalkan Jimmy… Tapi benar-benar hal yang tak terduga terjadi, seakan Mata Hati Jane telah buta…
Dia benar-benar merespon Tom, pria yang baru ia kenal. Seakan-akan seperti Jane telah amnesia dengan semua ketulusan Jimmy yang telah menemaninya Selama ia Buta…
Mata Hati Jane memang sudah benar-benar tertutup saat itu. Bahkan Sekarang pun Jane sudah mulai tidak mencari-cari dan memikirkan keberadaan Jimmy yang misterius…
Sekarang Jane sudah sibuk menjalani hidupny bersama Tom...

Akhirnya pada suatu hari dimana ini adalah hari yang akan menjadi Pukulan terberat dalam Hidup Jane.
Jane mendapat kabar Bahwa Jimmy ada di sebuah Rumah Sakit...
Mendengar hal itu Jane tentu saja Kaget dan langsung menghampiri Jimmy tanpa sepengetahuan Tom. Setelah didapati Jimmy sedang Kritis dan terlihat aneh pada Matanya Jane langsung Panik bukan main dan mencari-cari dokter untuk informasi keadaan Jimmy sekarang...
Sungguh Kaget bagai Tersambar petir hati Jane mendengar Penjelasan Dokter…
Ternyata Orang yang telah mendonorkan Mata untuk Jane adalah JIMMY…!!!
Air mata pun mengucur deras di mata Jane menyesali apa yang telah ia lakukan untuk membalas kebaikan dan ketulusan Jimmy selama ini…
Dokter pun menjelaskan kenapa Jimmy bisa kritis karena Pada saat beberapa hari setelah selesai mengoperasikan mata Jimmy kepada Jane, sang Dokter berniat mengantarkan Jimmy untuk menemui Jane yang telah sembuh dan ingin menjelaskan bahwa Jimmy lah sang Pendonor tsb…
Tapi Dokter pun kaget bukan main mendapati Jane Sedang asyik bermesraan dengan Tom… Mendengar hal itu pun Jimmy seperti lepas kendali dan menggila, karena matanya yang telah didonorkan untuk Jane Maka Jimmy yang tidak bisa melihat saai itu kehilangan kendali berlari-larian karena saking kecewanya kepada Jane dan akhirnya Malang menimpa Jimmy, ia tertabrak Sebuah Mobil yang melaju cukup kencang, sehingga Jimmy pun menjadi Kritis sekarang ini karena kecelakaan yang cukup parah.

Jane mendengar Hal itu langsung semakin histeris Berteriak-teriak memanggil Jimmy dan meminta Maaf. namun hal itu sudah terlambat, Dokter menegaskan nyawa Jimmy sepertinya sudah tidak dapat di tolong lagi, Hanya tinggal menunggu Waktu…
Namun Dokter memberikan Sepucuk Surat untuk Jane dan mengatakan bahwa inilah yang ia Tulis dan yang ingin dia berikan untukmu Jane setelah operasi selesai. Dengan penuh air mata dan masi terisak-isak Jane membuka surat itu dan Membaca surat Jimmy untuk yang pertama kali dan untuk yang terakhir kalinya.

"Dear Jane, Sebelumnya aku minta Maaf karena aku menghilang beberapa hari tanpa mengabari kamu, tapi kamu tenang saja, aku melakukan itu karena aku ingin memberikan kejutan yang luar biasa untukmu
aku telah periksakan mataku ke dokter dan ternyata mataku cocok untuk di donorkan kepadamu, dan aku pun menjalani Operasi pengambilan retina Mataku tanpa sepengetahuan kamu Jane. Aku sudah Puas melihat keindahan pada dunia ini sampai umurku sekarang, aku juga ingin kamu dapat melihat keindahan dunia ini Jane. Aku dengan Tulus mendonorkan mataku agar kamu dapat lebih semangat menjalani hidupmu dan
semua ini karena aku benar2 Cinta padamu Jane. I Love u Jane dan apapun akan kulakukan untuk kebahagiaanmu. From : Jimmy"

Selepas membaca surat itu Jane tak kuasa dan Langsung tak sadarkan diri terjatuh.
Akhirnya Jimmy pun meninggal karena keadaannya yang benar-benar tak bisa ditolong lagi.
Jane pun menjadi Depresi tingkat tinggi dan sempat di bawa ke RSJ karena sering berupaya melakukan tindakan Bunuh Diri…

Sobat…
Ketika kita mengharapkan sesuatu dari apa yang telah kita perbuat, seringkali kita akan kecewa… Karena kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan…

Seringkali kita lupa bahkan dibutakan, bahwa disekeliling kita ada orang – orang yang mengasihi kita… Tetapi, apa balasan kita… kita membuat mereka sakit hati… kita menancapkan akar kepahitan di dalam hati orang – orang yang kita kasihi…

Sobat…
Valentine tidaklah hanya untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara…
Bagaimana kita menerapkan kasih sayang itu kepada keluarga kita…
Sebuah kisah, yang kiranya ini dapat mengispirasi kita…

KISAH DI MUSIM DINGIN

Sobat, sering kali kita tertalu cepat menghakimi atau menghukum orang lain tanpa tahu fakta sebenarnya, hanya karena tidak sesuai dengan persepsi atau rencana kita sehingga justru lebih sering lagi kita menyakiti orangorang yang kita cintai.

Kita memang pertu terus belajar sebetum terlambat, salah satunya dari kisah di bawah ml:
Kisah di musim dingin (true story, seperti temuat dalam Xia Wen Pao, 2007)

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun yang bernama Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua…
Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeti keranjang kue yang baru…
Sobat, Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah…
Maka marahlah Siu Lan... Dia berfikir, Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya… Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Sobat… Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya.
Dinginnya saliju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue…
Bagaimana lagi…? Mereka harus dapat uang untuk makan.
Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sobat… Sepulang dari menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergetetak di depan pintu...
Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa.
Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak…
Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah… Siu Lan menggoncang – goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei… namun tetap saja putri kecil itu tidak berubah… tetap terbujur kaku…

Namun tiba – tiba, tatkala Siu Lan menggincang – goncangkan tubuh Lie Mei… jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.
Lalu Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya… Isinya sebungkus kecit biskuit yang terbungkus kertas usang. Siu Lan mengamati tulisan pada kertas usang itu adatah tulisan Lie Mei yang berantakan namun tetap terbaca…

“Hi hi hi . mama pasti lupa. Ini adalah hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah buat mama karena uangku tidak cukup untuk membeli biskuit dengan ukuran besar. Hi...hi...hi.. mama setamat ulang tahun, aku menyayangi mama.”

Sobat… lngatlah, jangan tertalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita  belum tentu benar adanya…
Janganlah penyesalan itu datang terlambat…

AKU INGIN MAMA KEMBALI

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa…
Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat… maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya, karena Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China.
Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Mengikuti kisahZhang Da di televisi, membuat saya terinspirasi dan ingin menceritakan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa.
Zhang Da merupakan sosok yang sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang
paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia.

Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang ketika ia berumur 15 tahun, dan satu - satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka bisa dikatakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.

Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat… Ia harus berangkat sekolah dan membiayai sekolahnya sendiri, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia…

Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung
jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah… Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil… Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah - buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya.
Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.
Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu - batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras, membeli obat-obatan untuk papanya dan untuk membiayai kehidupan dirinya dan papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

Zhang Da sejak umur10 tahun, sudah mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih dan Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari…

Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya.

Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi, dia adalah Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang
dilakukannya adalah perbuatan nekad, Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Dan Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih
kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai
kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-
apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Banyak pemirsa dan pengunjung acara tersebut menitikkan air mata karena terharu, mereka tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya.
Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat
katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya.

Sungguh mereka (pemirsa dan pengunjung acara tersebut) tidak mengerti apa yang menjadi permohonan Zhang Da, tapi kita semua tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya.
Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya…ditiap - tiap kesulitan ada kemudahan dan Tuhan tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami
kekalahan…. bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.

Happy Valentines Day
With Love,
Daniel Saputra

Selasa, 26 April 2011

TUHAN PUNYA RENCANA


TUHAN PUNYA RENCANA

Aku meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku…
Ketika aku masih menikmatinya… ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku… Matanya menatapku... Ya, Sebuah tatapan yang menusuk ke dalam hatiku… Tatapan yang penuh iba. Kemudian aku meletakkan gelas yang hanya menyisakan es batu yang masih membeku.

Aku penasaran kepada sosok anak kecil itu, sambil memandang anak itu, aku bertanya kepada pemilik warung, siapakah anak yang duduk di pinggir jalan itu…
Kemudian pemilik warung itu menceritakan bahwa Sudah seminggu bapak anak itu meninggal gara-gara sakit... Ibunya sudah meninggal waktu melahirkan dia... Dia tidak punya keluarga lagi… Sekarang dia tidur di mana saja karena di usir dari kos.

Aku kemudian menghampiri anak laki-laki itu yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki… Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya…
Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan kalau tubuhnya tidak terurus… Dia terus menatapku sampai aku duduk di sampingnya…

Kemudian aku menyapa anak itu… “Nama kamu siapa dek?” aku bertanya dengan nada bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.
“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.

Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di saku dan dompetku… Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus.
“Nanti kakak belikan kamu makanan. Tapi nama kamu siapa?” Sekali lagi aku menanyakan namanya.
“Benar kak? Serius? Kakak ngga bohongkan?”
“Iya. Ngapain bohong…? Tapi nama kamu siapa…?”
Aku melihat senyuman manisnya yang memancarkan barisan giginya yang tersusun rapi tapi berwarna kuning karena tidak pernah disikat.
“Namaku Samuel Lie… Panggil saja Samuel. Kalau kakak?”
“Dewantara Alexander, panggil saja kak Tara!”
Dia mengulurkan tangannya lalu kusambut. Sebuah jabatan salam perkenalan yang hangat. Terasa kalau tangannya penuh dengan debu ketika tanganku bersentuhan dengan tangan munggilnya. Kukunya yang panjang menyembunyikan daki berwarna hitam di setiap kuku jarinya.

Kemudian aku mengajak dia makan di sebuah warteg…
Dengan langkah semangat Samuel memegang tanganku dan menuntunku ke warteg tersebut. Wajah murungnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya memandangnya dengan mata yang hampir copot… Lahap sekali anak ini makan. Kurang dari lima menit, makanan yang aku pesan sudah tidak tersisa lagi.
Kemudian dia mengucapkan terima kasih kepadaku… Aku terharu meski aku tahu jatah makan malamku sudah tidak ada lagi.

Aku kemudian mengajak anak itu pergi ke kosku…
Aku manatap Samuel yang tidur terlelap yang hanya beralaskan koran dan tumpukan baju di kosku yang hanya berukuran 1,5×1,5 meter…
Masih terngiang pembicaraan antara aku dengan Samuel sebelum dia terlelap.

Samuel memanggil aku dengan sebutan koko Tara…
Tadi Samuel juga menceritakan bahwa dahulu dia punya kakak… Tetapi kakaknya yang bernama Daniel itu meninggal seperti papa dan mamanya…”
Mengingat tingkal kau Samuel yang masih polos… Aku tertawa dan Karena lelah Samuel langsung tidur terlelap. Sementara aku berusaha menutup mataku diantara suara perutku yang berbunyi karena kelaparan.

Walaupun kami baru saja bertemu… Aku merasakan Samuel sangat dekat dengan aku…
Dia bercerita tentang kehidupannya, akupun membuka diri dan mengutarakan keinginanku bahwa aku ingin punya toko sendiri tatkala aku mengajak Samuel ke tempat kerjaku…
Suatu kali… Tatkala Samuel merasa lapar, dia berbicara kepadaku… Aku merasa sedih dan kasian kepada dia, tetapi uang di dompetku tinggal seribu rupiah… Ketika aku mengatakan hal tersebut… Samuel hanya menatapku.
“Kamu disini ya, koko beliin kamu gorengan dulu.”
“Iya ko.” Jawab Samuel…
Aku berlari untuk membeli dua potong pisang goreng… Begitu kembali, mata Samuel berbinar-binar ketika menerima dua potong pisang goreng.
“Ini untuk aku dan ini untuk koko,” ucapnya sambil menyerahkan sepotong pisang goreng.
“Untuk kamu saja ya…!!!”
Tetapi Samuel tidak mau, dia juga peduli denganku, karena mengetahui aku tidak makan tadi malam… Dengan berat hati aku memakannya juga.

Setelah itu aku langsung melakukan tugasku ketika tiba di toko. Membuka toko, lalu membersihkannya, melayani pembeli dan kemudian menutupnya. Gajiku cukup untuk bayar kos, makan, kebutuhan sehari-hari dan biaya transportasi. Tapi beruntung Ko Willy, si empunya toko berbaik hati mengizinkan aku memakai komputernya untuk jualan online. Aku menjual tas yang ada di toko Ko Willy di blogku.
Keuntungannya memang sedikit. Tapi aku percaya, setia dalam hal yang kecil maka Tuhan akan mempercayakan hal yang lebih besar lagi.
“Nanti kalau ada yang beli tas sama koko, nanti koko traktir kamu di KFC.”
“Wow! Samuel doain semoga laku. AMIN”
Aku hanya tersenyum. Apa lagi melihat tubuhnya sudah bersih. Meski baju yang dikenakannya kebesaran.
Aku belum bisa membelikan Samuel baju sehinga mau ngga mau dia harus memakai pakaianku.

Pada suatu hari… Tanpa sengaja aku menyentuh tubuh Samuel… Aku menemukan Samuel sedang sakit, badannya panas, dan dia sedang menahan sakit...
Sementara di luar kos, gerimis mulai turun… Tubuh Samuel kedinginan. Tidak ada jaket atau selimut. Aku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menempelkan beberapa baju ke seluruh tubuhnya.

Aku bingung… Aku merasa tidak memiliki uang yang cukup untuk membawa dia ke dokter… Aku semakin bingung ketika Samuel tidak menjawab pertanyaannku... Dia hanya mengerang dengan mata tertutup rapat.
Akhirnya aku memutuskan untuk menggendong tubuh Samuel dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Entah kenapa aku takut kehilangan Samuel. Meski baru dua minggu mengenalnya. Rasanya seperti terjalin ikatan batin yang kuat diantara kami… Sehari tanpa ocehan Samuel rasanya ada yang aneh. Pertanyaan-pertanyaan sering terlontar dari mulutnya hingga kadang aku kewalahan menjawabnya.

Sesampainya di rumah sakit… Satpam menghalangiku untuk masuk… Aku mengatakan bahwa adikku sakit dan membutuhkan pertolongan… Satpam tersebut memandangku dan Samuel berkali-kali. Mungkin dia bingung, aku yang pribumi memiliki adik yang keturunan Tionghoa.

Dengan ketus Satpam itu berkata kepadaku… “Bawa saja ke rumah sakit lain. Di sini bayarnya mahal. Ngga terima pasien kayak begini…!!”
Aku berfikir… Ya Tuhan, Apa rumah sakit ini hanya menerima pasien yang menaiki mobil mewah yang bisa di rawat di sini? Sementara orang miskin sepertiku tidak diterima…???

Ketika satpam tersebut mengarahkan mobil mewah untuk mendapatkan parkir aku langsung menerobos masuk… Aku tetap nekat untuk masuk. Apa pun akan aku lakukan untuk Samuel… Satpam tersebut hanya pasrah dengan sikapku. Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatku basah kuyup tanpa alas kaki, karena sandalku putus saat berlari menggendong Samuel... Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang memandangku.

Empat hari kemudian… Aku dikejutkan dengan penjelasan seorang dokter muda perihal penyakit Samuel…
Hemofilia… Penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan oleh melalui kromosn X
Aku lebih terkejut lagi, ketika dokter itu mengatakan bahwa Samuel terkena Hermofilia B dan hasil pemeriksaan menyatakan bahwa dia juga positif mengidap HIV…

Aku berdiri seperti patung… Samuel yang masih berumur enam tahun mengidap HIV…???
Ayah atau ibunyakah yang menularkan? Atau karena dia pernah menjalani transfusi darah dan ternyata HIV lolos dalam transfusi darah yang dijalanninya.

Kini aku tahu…, kenapa tidak ada satu pun keluarganya yang mau menampungnya yang sebatang kara. Mungkin ayahnya meninggal karena HIV juga… Entahlah.
Aku menatap wajah pucat Samuel yang terbaring lemah dengan infus yang terpasang ditubuhnya…
Selama Samuel di rawat tidak ada satu pun kata keluh kesah yang keluar dari mulutnya.

Aku teringat dengan apa yang terjadi sebelum Samuel berbaring di rumahsakit…
“Samuel pengen kado natal!” Ungkapan Samuel tiba-tiba begitu melihat nuansa natal yang menghiasi setiap penjuru mal.
Ketika aku bertanya, apa kado yang diinginkannya, dia mengatakan bahwa dia menginginkan boneka Tazmania…
“Nanti koko belikan kalau koko sudah punya duit. Beberapa hari ini belum ada tas yang laku. Nanti koko belikan boneka Tazmania yang gede…” kataku saat itu kepada Samuel
Tetapi Samuel menjawab… “Yang kecil juga ngga apa-apa kok.”

Malamnya sebelum beranjak tidur, kembali dia mengutarakan keinginannya… Akupun menjawab “Koko pasti belikan buat kamu. Berharap sebelum natal banyak tas yang laku.”
Hatiku miris, seharian aku dan Samuel hanya minum air kran. Tidak ada duit yang tersisa.
“Maafkan koko, Samuel,” bisikku dalam hati sambil mengusap kepalanya.

Kemudian dia mengajakku berdoa… Dia mengatakan kepada Tuhan…
“Tuhan… Berkati Ko Tara ya. Berkati pekerjaan dan usahanya”
Aku terharu. Aku meneteskan air mataku.

Segala macam usaha telah di coba oleh tim dokter yang menangani Samuel. Sudah dua minggu terakhir ini berbagai obat pun silih berganti dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Setiap hari berjam-jam aku menemaninya setelah pulang dari jaga toko. Mengobrol, bergurau atau kadang-kadang berdongeng untuknya.

Suatu kali dia bertanya kepadaku… “Ko, apa artinya meninggal dunia?”
Pertanyaan yang menghentakkan diriku yang lelah dan lapar. HIV sudah memorak-porandakan seluruh sistem pertahanan tubuh Samuel… Infeksi yang tidak terlalu berat pun dapat menimbulkan penyakit yang fatal…
Aku menjawab… “Artinya, kamu akan pergi kesuatu tempat yang jauh… Tempat di mana kamu berasal.”
“Perginya sendirian?” tanyanya lemah.
Mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba untuk menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Sendirian. Tapi kamu jangan takut.” Aku mencoba untuk menguatkannya
“Kalau aku meninggal dunia, siapa yang akan menemani koko…??”

Pertanyaan itu akhirnya membuat air mataku juga jatuh... Diantara penderitaannya dia masih memikirkanku.
Kemudian dia melanjutkan perkataannya…
“Aku tahu, koko sering ngga makan biar aku kenyang… Koko sering jalan kaki pulang pergi ke toko biar bisa belikan aku sesuatu setiap hari. Nanti di sana, siapa yang motongin kuku Samuel…??”
Kemudian aku memeluknya dan dia kembali berbicara…
“Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang yang banyak. Aku mau belikan koko sebuah toko. Biar koko ngga usah kerja lagi. Trus belikan koko rumah dan mobil, biar kalau hujan bisa tetap tidur enak dan tidak perlu lagi jalan kaki.”
Mulutku tertutup rapat. Bungkam. Tak ada kata yang bisa melewati kerongkonganku. Di tengah rasa sakitnya, dia masih menyimpan sebuah impian. Bukan keluh kesah karena sakit yang di deranya.

Aku membawa sebuah boneka Tazmania kecil untuk Samuel… Samuel yang terbaring lemah memaksakan senyumannya.
“Ko… Terima… kasih… ya, ko! Bonekanya bagus banget.”
“Maafkan koko ya. Koko ngga bisa belikan kamu boneka yang gede.”
“Ko, aku mau… kasih koko kado.”

Aku tercengang dengan perkataan Samuel…
“Aku cuma… bisa kasih lagu buat koko…”
Aku mendekatkan kupingku di wajah Samuel dan dia bernyanyi untukku… Semakin lama suaranya semakin melemah…

“Dalam segala perkara Tuhan punya rencana… Yang lebih besar dari semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat tak ada maksud jahat… S’bab itu ku lakukan semua denganMu Tuhan
Ku tak akan menyerah pada apapun juga… Sebelum ku coba semua yang ku bisa
Tetapi ku berserah kepada kehendakMu… Hatiku percaya Tuhan punya rencana…

Air mataku terus jatuh ketika dengan susah payah dia menyelesaikan lagu tersebut.
“Selamat natal ya ko.” Ucapnya dengan sangat pelan.
“Selamat natal juga sayang.”

Tangan kanan Samuel mendekap boneka Tazmanianya sementara tangan kirinya menggengam tanganku.
Genggamannya makin lama makin lembut hingga tak ada lagi nadinya yang berdetak.
“Surga menantimu, pahlawan kecilku…” bisikku dikupingnya yang dingin.

Sobat…
Janganlah menyerah dengan segala keadaan yang kita alami… Tuhan beserta dengan kita…

Tuhan Yesus Memberkati
Daniel C. Saputra

Senin, 25 April 2011

AKU TAK BISA MEMEGANG KARTU LAGI


AKU TAK BISA MEMEGANG KARTU LAGI

Sobat… Hidup kita berharga di Mata Tuhan… Ketika kita menyadari hal tersebut, pertanyaannya adalah… Sudahkah di dalam hidup ini kita memuliakan Tuhan melelui setiap apa yang kita lakukan… Setiap apa yang kita kerjakan…???
Sudahkah kita mengasihi Dia dengan melakukan hal – hal yang diperkenan oleh Tuhan…???

Sebuah kisah untuk perenungan kita…

Ia pulang duduk seorang diri dengan suasana hening dan damai sedamai hatinya…
Tadi ketika seorang hamba Tuhan berbicara dengan penuh kuasa Ilahi, hatinya dikuasai penyesalan yang sangat dalam teringat kehidupannya yang penuh dosa…
Ia melihat bagaimana hari-harinya dilewati dengan berjudi, sampai tubuhnya payah dan tidak pernah sedikitpun terpikir akan anak dan istrinya.
Bila ia kalah…, anaknya yang datang untuk meminta uang belanja selalu diumpatnya "Karena tadi aku kamu ganggu, maka aku jadi kalah…!!"
Tak pernah diperhatikannya istri dan anaknya yang semakin kurus menahan derita batin dan jasmani… Bila kebetulan ia menang, uang yang didapatnya dibelanjakan berbagai barang kebutuhan keluarga, karena pikirnya dengan begitu keluarganya akan senang dan merasa terhibur… Ia berfikir seolah-olah dengan memborong barang-barang (baik yang dibutuhkan ataupun tidak) ia dapat mengurangi seluruh beban keluarganya…

Saat semua disadarinya, pintu hatinya telah terbuka. Ketika hamba Tuhan itu mengajak orang-orang untuk bertobat dan menerima Juruselamat, ia adalah salah seorang diantara mereka….
"Mulai saat ini, segala dosa saudara telah dihapus oleh darah pengorbanan Kristus di kayu salib," kata hamba Tuhan itu, "…damai sejahteralah saudara sekarang, dan tinggalkan perbuatan dosa yang dahulu."

Sobat Pertobatan itu telah mengubah dirinya…, ia bertekad untuk meninggalkan segala perbuatan dosa yang terdahulu… Tetapi setan tidak pernah tinggal diam, tak henti-hentinya teman-teman berjudinya datang ke rumah mengajak kembali mencari keuntungan yang tidak dihalalkan Tuhan…
Bila ia berkata bahwa telah bertobat serta menerima Kristus, mereka tertawa terbahak-bahak dan berkata. "Kami ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan sebagai orang Kristen..!!" Ia mulai gelisah, akankah ia dapat bertahan dalam imannya…???

Tiba-tiba ia teringat bagaimana Kristus mencurahkan darahNya sebagai penebus dosa manusia, dosa dirinya sebagai pejudi. Maka dari dalam hatinya yang baru disucikan timbul suatu tekad…
Tuhan, demi menunjukkan kasih setiaku padaMu, aku rela berkorban sekalipun dengan mencurahkahn darahku. Ia memanggil istrinya, "Ambilkan aku golok" katanya dengan tenang...
Istrinya tidak berprasangka dan menuruti permintaan itu. Dipegangnya golok itu, kemudian tangannya yang lain diletakkan di atas meja. Golok diangkat dan istrinya memperhatikan perbuatannya dengan perasaan ngeri. Apakah yang hendak dilakukan suaminya itu…???

Darah mengalir deras, telunjuk terkapar diatas meja dan terpisah dari tangannya. Dengan wajah pucat menahan sakit, ia memerintahkan istrinya mengambil pembalut. "Selesai sudah," gumamnya karena baru saja memotong jari telunjuknya. Keesokan harinya ketika teman-temannya datang, ia mengangkat tangannya yang sudah tak berjari tinggi-tinggi.

"Aku sudah tidak bisa memegang kartu lagi…!!" katanya dengan tegas. Teman-temannya pergi setelah mendengar apa yang terjadi, dan mereka mengaku kalah karena iman mampu mengalahkan segala-galanya dan mampu memberi kesaksian.

Sobat… di kota kecil Jepara, hidup seorang kakek 80 tahun… Jalan dan gerak-geriknya masih gagah, bicaranya jujur dan tegas. Selama 40 tahun ia telah bersaksi dan tanpa didikan teologis telah mempertobatkan beratus-ratus orang di kota itu…
Bila secara kebetulan kita bertemu dengan dia dan melirik ketangannya, akan melihat bahwa tangannya tidak berjari telunjuk...

Sobat… Tidaklah mudah untuk menjadi hambaNya yang setia… Akan banyak tantangan dan masalah yang mencoba menyeret kita untuk berlaku tidak setia…
Banyak godaan yang menawarkan kehidupan yang lebih nyaman, walaupun itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan…

Sobat… Hidup adalah pilihan… Kemanakan kita akan memilih…???

Selamat Memilih… Tuhan Yesus Memberkati
Daniel C. Saputra


Minggu, 24 April 2011

DIBAYAR LUNAS !!!


DIBAYAR LUNAS…!!!

Yohanes 13 : 36 – 38
Simon Petrus berkata kepada Yesus : “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawan Yesus : “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.”
Kata Petrus kepadaNya : “Tuhan mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang ? Aku akan memberikan nyawaku bagiMu !”
Jawab Yesus : “Nyawamu akan kauberikan bagiKu ? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Sobat… kisah dari Yesus memperingatkan Petrus sudah sering kita dengarkan, terutama di masa raya Paskah… Ya, Sebuah kisah yang demikian terkenal…
Dengan latar belakang seorang Simon Petrus yang terkenal lantang bahkan “mulut besar” yang ingin menunjukkan dirinya adalah murid Tuhan yang setia…
Tetapi yang terjadi… Pada kenyataannya, apa yang diucapkan tidak dapat dilaksanakannya…

Petrus mengatakan… “Tuhan mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang…? Aku akan memberikan nyawaku bagiMu…!!”
Sobat… bukankah itu merupakan kalimat yang indah yang diucapkan oleh seorang murid Yesus, yang dalam hidupnya mengikut secara nyata pelayanan Tuhan Yesus…
Petrus tahu persis apa yang dilakukan oleh Yesus dalam pelayananNya, dimana banyak mujizat terjadi… banyak hal yang tidak masuk akal dilakukan oleh Yesus, sehingga kepercayaan Petrus semakin tertanam… dan dia memiliki keyakinan bahwa Yesuslah Raja diatas segala raja… dan akhirnya pernyataan seorang Simon Petrus itu terucap…

Sobat… tapi sungguh ironis…
Yohanes 18 : 12 – 27 menjelaskan secara nyata bahwa apa yang dikatakan Tuhan kepada Petrus benar – benar terjadi… Tuhan bertanya dan mengatakan kepada Petrus,… “Nyawamu akan kauberikan bagiKu ? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Sobat… Bagaimana dengan kita…???
Seringkali kita berjanji untuk setia kepada Tuhan… Tapi pada kenyataannya… Seringkali kita mengingkari janji kita…
Bahkan tak ubahnya seperti Simon Petrus… Dengan mulut besar kita… Kita mengungkapkan janji – janji indah dihadapan Tuhan… Tetapi, sampai kapankah janji tersebut bertahan…???


Sobat… Ada kisah tentang seorang budak Afrika, dimana tuannya hendak membunuh dia dengan sebuah tombak…
Namun ada seorang pelancong Inggris yang ksatria mengangkat tangannya dan menepis hantaman tersebut, dan tangannya tertusuk oleh senjata keji tersebut…

Tatkala darah menyembur keluar, ia menuntut budak itu dimilikinya kepada Tuannya sebelumnya… ia berkata bahwa ia telah membelinya dengan apa yang dideritanya… Si Tuan yang jahat dengan enggan menyetujuinya…

Setelah Ia berlalu, Si Budak tersungkur di kaki penyelamatnya dan berseru… “Yang dibeli dengan darah… Kini adalah hamba dari belas kasihan… Dia akan melayaninya dengan setia…”

Sobat… Kita adalah seorang hamba yang telah dibeli dengan darah Kristus… Dapatkah kita mengatakan… “Yang dibeli dengan darah… Kini adalah hamba dari belas kasihan… Dia akan melayaninya dengan setia…”
Mungkin… kita akan mudah mengatakan hal tersebut… Tetapi pertanyaannya adalah…
Dapatkah kita melakukannya dengan setia…
Melakukan pekerjaan sebagai hamba Tuhan… Yaitu melayani Dia dengan kesetiaan sampai kapanpun dan apapun yang terjadi di dalam hidup kita…

Sobat… Simon Petrus dalam kisah yang tadi kita baca… Bukan saja sebagai murid dengan mulut besarnya… Tetapi dia adalah rasul besar yang pernah ada…
Dia pernah menyangkal Tuhan… Tetapi melalui kematian dan kebangkitan Tuhan… Dia diubah menjadi rasul yang luar biasa… Dia dipakai untuk melayani Tuhan secara luar biasa…

Sobat… Bagaimana dengan kita…???
Sudah berapa kalikah kita memperingati kematian dan kebangkitanNya…???
Jangan – jangan hal tersebut hanyalah rutinitas setiap tahun yang dirayakan dan diperingati oleh orang kristen…???
Kita merasakan sekejap saja dan kemudian dengan mudah terkikis oleh ketidaksetiaan kita…???

Sobat… Dosa kita telah ditanggung oleh Kristus… Dibayar lunas dengan penderitaanNya… dengan kematianNya di atas kayu salib…
Bukan dengan harga yang murah… Tetapi oleh Tubuh Kristus sendiri…

Sebuah kisah terakhir yang saya bagikan untuk perenungan kita pada paskah ini…

Sobat… Ada sebuah kisah tentang kaisar Nicholas I dari Rusia…
Dalam kisah tersebut diceritakan, bahwa kaisar sangat memperhatikan kesejahteraan seorang pemuda yang ayahnya adalah sahabatnya… Ketika pemuda itu dewasa, Kaisar Nicholas memberikan posisi yang baik kepada pemuda itu dalam ketentaraan dan menempatkannya sebagai orang yang mengemban tanggung jawab di salah satu benteng besar Rusia, dimana pemuda itu bertanggung jawab atas keuangan satu divisi dalam angkatan bersenjata…

Sobat… pemuda itu pada mulanya bekerja dengan sangat baik… tetapi seiring berlalunya waktu, ia berubah menjadi seorang penjudi… Dapat dipastikan, dalam waktu singkat, ia menghabiskan semua uangnya dengan berjudi… Ia meminjam uang dari bendahara dan menghabiskan di meja judi beberapa rubel setiap kalinya…

Suatu hari ia mendengar bahwa akan dilakukan audit pembukuan… Dengan bergegas ia mengambil peti penyimpanan… kemudian mengeluarkan buku kas dan menghitung berapa banyak uang yang ia miliki… Setelah ia mengurangi jumlah uang yang telah diambilnya, pemuda itu mendapati bahwa hutangnya luar biasa besar…

Sobat… Saat pemuda itu duduk di samping meja itu, ia mengeluarkan pulpennya dan menuliskan kalimat… Hutang besar, siapa yang dapat membayar…???

Sobat… Tidak ingin mendapatkan malu keesokan harinya tatkala dilakukan audit… Pemuda itu mengeluarkan pistolnya dan ia memutuskan bahwa pada tengah malam nanti ia akan mengakhiri hidupnya…

Malam itu hangat dan menimbulkan kantuk… Selagi pemuda itu duduk di samping meja, ia pun tertidur…
Kaisar Nicholas memiliki kebiasaan mengenakan seragan serdadu dan mengunjungi beberapa pos penjagaan… Malam itu, Dia mengunjungi benteng besar itu…
Sewaktu ia melakukan inspeksi, ia melihat seberkas cahaya di dalam salah satu kamar… Kemudian ia masuk ke ruangan tersebut…

Didalam ruangan itu ada seorang pemuda, dan kaisar langsung mengenalinya… Tatkala dia menghampiri pemuda itu dan melihat catatan yang ada di meja pemuda itu… Sebuah kalimat dibacanya… Hutang besar, siapa yang dapat membayar…??? Kemudian Kaisar mendapati peti penyimpanan uang yang terbuka…

Sobat… Pertama – tama, Kaisar merasa terdorong untuk membangunkan pemuda itu dan menahannya… Namun, Kaisar Nicholas dipenuhi oleh luapan kemurahan hati, dan ia mengambil pulpen yang jatuh dari tangan pemuda itu… Dan kaisar menuliskan satu kata di lembaran kertas yang sama, dan diam – diam ia meninggalkan kamar itu…

Kira – kira satu jam kemudian… Pemuda itu terbangun dan meraih pistolnya, menyadari bahwa saat itu sudah jauh lewat tengah malam.
Sebelum dia mengakhiri hidupnya, ia melihat kembali catatannya… Hutang besar, siapa yang dapat membayar…??? Dia sangat terkejut… tatkala di akhir kalimat yang dia tuliskan ada tambahan satu kata… NICHOLAS

Sobat… Pemuda itu menjatuhkan pistolnya dan berlari menuju ke tempat arsip… Ia memeriksa tulisan – tulisan dan menemukan tanda tangan Sang Kaisar…
Sudah sangat jelas baginya, dan dia mengetahui bahwa Kaisar ada disana malam itu, tatkala dia terlelap, dan Kaisar mengetahui kesalahannya… Tetapi Kaisar mengampuninya dan melunasi hutang – hutangnya…

Sobat… kisah Kaisar Nicholas yang menghapus hutang – hutang dan pelanggaran pemuda itu, adalah bayangan redup untuk menceritakan kasih Kristus yang menebus setiap dosa manusia…

Yang telah dilakukan oleh Kaisar Nicholas adalah tindakan yang luar biasa, dimana dia mengampuni orang yang bersalah…
Sobat… Kalau Kaisar Nicholas hanya menuliskan namanya untuk mengampuni orang tersebut… Bagaimana yang dilakukan oleh Kristus…???
Kristus tidak hanya menuliskan namaNya… Tetapi untuk menebus dosa manusia, Dia kehilangan segala – galanya…
Dia rela meninggalkan TahtaNya yang mulia… dihina… disiksa… disalibkan… dan mati untuk kita…

Selamat Paskah…
Kasih setia Tuhan senantiasa ada dalam hidup kita…

Daniel C. Saputra



Senin, 28 Maret 2011

BERBAGI KASIH


BERBAGI KASIH

Sobat…
Ketika kita merenungkan akan hidup kita, tentunya banyak hal yang telah kita alami…
Ketika kita merenungkan akan kasih Tuhan yang nyata dalam hidup kita… Banyak hal… Banyak alasan yang membuat kita bersyukur dan berterima kasih atas anugerah yang telah Dia berikan untuk kita…

Tetapi kondisi tersebut akan dengan mudah berbalik arah, bahkan hal itu seringkali terjadi dalam hidup kita…
Kita senantiasa merasa banyak kekurangan di dalam hidup ini… sehingga kita kita dibutakan karenanya…
Sobat… Banyak orang memiliki materi yang berlimpah… Tetapi masih saja ia merasa kurang… masih saja mengeluh… dan dia tidak dapat bersyukur…
Sobat… tidak ada damai sejahtera dan sukacita bukan karena kekurangan dalam hal materi… tetapi karena dia tidak dapat bersyukur dan tidak dapat membagikan kasih kepada sesama…

Sebuah kisah untuk perenungan kita…

Sobat… ada seorang yang bernama BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak…
Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya…, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya… Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Sobat… Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya… Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja…
Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan… Dia melalang di jalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum yang tak pernah lekang dari wajahnya… Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya.
Namun karena kebaikan hatinya itu…, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Sobat… Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya…
Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian… Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak…

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat…, di ruang itu juga ia menerima tamu yang membutuhkan bantuannya…, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal.
Ada sebuah piring seng comel dimana biasa ia makan…, ada sebuah tempat minum dari kaleng.
Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Sobat… Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang.
Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah… Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek… Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin… Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja… Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu…

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga…

Sobat… Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.

Sobat… Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan…

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak…

Sobat… Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu... Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia melakukan semua itu…, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu…
Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan….,” katanya dengan sendu.

Semua guru di sekolah itu menangis….

Sobat… Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun…, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Sobat…
Mungkin hidup kita lebih beruntung dibandingkan dengan Bai Fang Li… Tetapi apakah kita mendapatkan kedamaian yang lebih dibandingkan dengan dia…???
Mungkin kita hidup secara berkecukupan… atau mungkin berkelimpahan…
Disekeliling kita ada keluarga yang mengasihi kita… Kita punya punya tempat tinggal yang layak… Kita punya pekerjaan… Punya yang lain… dan yang lain…

Sobat… seringkali kita dibutakan karena materi… sehingga kita terus dan terus merasa kekurangan… Sehingga damai sejahtera dan sukacita hilang dari kehidupan kita…

Sobat… Kasih yang telah Tuhan berikan kepada kita… Dengan wujud yang nyata telah dianugerahkan kepada kita… Sobat… Kasih bukanlah sekedar apa yang kita keluarkan dari mulut kita… Tetapi kasih harus diwujudnyatakan di dalam hidup kita…

Sobat… Kasih adalah pembawa dama sejahtera… dan kasih, mengajarkan kepada kita untuk memiliki hidup yang senantiasa bersyukur…

Selamat berbagi kasih… Selamat bersyukur…
Tuhan Yesus memberkati…

Daniel C. Saputra